Ternyata Anak Dalam “Usia Ini” Akan Sering Ngelawan! Setiap Orang Tua Wajib Baca!

Posted on

Anak mulai ngelawan adalah topik yang paling berat bagi setiap orang tua di dunia. Apalagi bagi kita orang Indonesia yang memiliki tradisi menghormati dan menjaga kesantunan terhadap orang tua.

Namun anak-anak memang mengalami fase “pemberontakan” yang sebenarnya hal ini sangat alami terjadi karena menandakan proses pertumbuhan. Maka dari itu kita sebagai orang tua harus memahami kebutuhan psikologis di balik pemberontakan anak agar dapat menunjang pertumbuhannya.

Para ahli di Amerika yang khusus meneliti anak-anak telah menyimpulkan bahwa pemberontakan anak terjadi dalam 3 fase usia.

Pertama : Saat usia 2 tahun.

Anak usia 2 tahun otak mereka sudah mulai bertumbuh dan sudah mulai bisa berkata tidak.

“Ayo makan!” , “Gak mau!”

“Tidur yuk!” , “Gak mau!”

Kemudian yang harus diperhatikan lagi adalah anak merupakan cerminan orang tua. Apa yang mereka lakukan ini karena mereka melihat orang tuanya atau orang di sekitarnya juga melakukan hal tersebut.

Jadi bagaimana cara orang tua untuk menghadapi anak dalam periode ini?

Ingat untuk tidak terlalu demokratis.

Menanyakan pendapat anak dalam setiap pilihan memang sangat bagus dan perlu dilakukan. Namun ada kalanya orang tua harus lebih bersikap tegas dan membantunya mengambil keputusan. Misalnya saat kita bertanya pada anak : De, kita sikat gigi sama-sama yuk.” , pasti anak akan berkata:”Tidak!”. Jika orang tua tidak “memaksanya”, berarti anak tidak akan sikat gigi?

Ajukan beberapa pilihan

Saat hendak membawanya bermain keluar rumah, ada baiknya jika kita memberikan dua pilihan. Misalnya kita mau pergi sekarang atau lima menit lagi? Tentu saja ada beberapa anak yang akan menjawab diluar pilihan tersebut.

Jika seperti itu, tanyakan lagi kedua pilihan tersebut dan berikan arahan untuk memilih salah satu. Dengan demikian anak akan merasa kalau orang tua bisa diajak untuk berkomunikasi dan tidak menakutkan.

Jangan selalu menggunakan nada perintah saat sedang berkomunikasi.

Saat menyuruh anak untuk melakukan sesuatu biasakanlah bicara dengan menggunakan pilihan kata serta intonasi yang lembut. Misalnya saat menyuruh anak mencuci tangan dan makan.

Biasanya : “Cepat cuci tangan! Terus langsung makan. Jangan kemana-mana lagi!”

Alangkah lebih baiknya jika seperti ini : “De, cuci tangan yuk! Lima menit lagi kita makan.”

Berikan waktu pada anak untuk bersiap-siap.

Gerakan anak-anak belum sesempurna orang dewasa. Mereka membutuhkan waktu untuk berpikir dan menggerakan tubuhnya. Maka dari itu selalu berikan waktu pada anak saat kita menyuruhnya melakukan sesuatu.

“De, ayo mandi. Lima menit lagi kita mau pergi.” atau “De, ayo sikat gigi. Lima menit lagi kita mau tidur.” Dengan demikian anak dapat mencerna perkataan kita dan melakukannya dengan baik. Daripada kita bentak-bentak, anak malah tidak mengerti dengan perkataan kita.

Kedua : Saat usia 7-9 tahun.

Saat usia ini anak-anak sudah masuk ke dunia sekolah dan bertemu dengan banyak orang. Mereka mulai tumbuh besar dan ingin melawan orang tuanya. Sebenarnya mereka sangat membutuhkan bimbingan orang tua.

Dalam fase ini orang tua harus lebih banyak berkomunikasi dengan anak agar mereka lebih stabil dan juga lebih terlibat dalam segala perkara yang terjadi dalam hidup mereka. Selain itu coba terapkan aturan hidup yang baik, misalkan mengerjakan pr dulu sebelum makan atau menonton tv selama 20 menit setelah makan.

Ketiga : Saat usia 12-15 tahun.

Anak kita sudah memasuki masa pubertas. Saat ini perkembangan psikologis mereka belum matang dan sering merasa frustasi saat berada di rumah. Mereka senang melawan orang tua karena ingin merasa mandiri dan tidak ingin diatur.

Saat ini kita sebagai orang tua harus mulai memperlakukan mereka sebagai individu yang mandiri. Kita juga harus mendukung keinginan positif dari anak dan juga memberi motivasi saat mereka gagal.

Kebanyakan dari anak remaja lebih senang berkomunikasi dengan sang ayah karena dianggap dapat berpikir secara rasional ketimbang ibunya yang suka cemas berlebihan. Jadi sangat diharapkan peran ayah disini agar pertumbuhan anak berjalan normal.

Sumber : foyuan

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *