Sudah Tidak Memiliki Orang Tua dan Harus Membiayai 3 Adiknya, Gadis Ini Tetap Berhasil Lulus dari ITB! Netizen Menangis!

Posted on

Setiap orang kerap kali dihadapkan dengan permasalahan yang tidak diinginkan. Terdapat halangan dan rintangan yang mesti dilewati seseorang, namun hal itu tentu saja bukan merupakan penghambat untuk meraih kesuksesan.

Seperti halnya yang telah dilalui Reni Romaulina (23), wisudawati jurusan teknik lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB. Perjuangannya patut diapresiasi dan inspiratif, pasalnya, di tengah perjuangannya meraih cita-cita, dia harus dihadapkan pada persoalan berat, yaitu menjadi tumpuan keluarga lantaran kedua orangtuanya telah tiada.

Ayahnya bernama Anggiat Silaban (alm) dan ibunya bernama Basaria Nainggolan (almh). Saat baru lulus dari sekolah tingkat menengah atas, gadis kelahiran Bandung, 20 Oktober 1995 ini sempat mendapatkan kepercayaan dari ibunya untuk berkuliah meskipun di tengah kondisi ekonomi yang serba berkecukupan.

Saat itu, karena ayahnya telah tiada, ibunya lah yang harus bekerja menghidupi dirinya dan ketiga orang adiknya.

Reni merupakan anak pertama dari empat bersaudara, adiknya yang pertama Rikardo Silaban sudah lulus SMA dan tengah mencari pekerjaan, adik kedua Nia Silaban merupakan mahasiswi Unpad jurusan hubungan internasional juga mahasiswa Bidikmisi, dan adik keempat Rosdiana Angelina Silaban sekarang masih bersekolah di kelas 1 SMAN 1 Purwakarta.

Bersyukurlah Reni, berkat tekadnya dan kepercayaan ibunya itu, dia berkesempatan memperoleh beasiswa bidikmisi selama kuliah di ITB. Namun, tak berselang lama Reni berkuliah, ketika di akhir semester kedua, Reni harus menerima pahitnya kenyataan dan kesedihan yang mendalam.

Ibunya divonis oleh dokter mengidap kanker otak stadium empat. Hal itu menyisakan tanya dan realitas yang sangat berat baginya, mengingat dokter telah memprediksi bahwa umur ibunya tidak lama lagi.

“Kami enggak tahu sebenarnya kapan itu terjadi, awalnya kami pikir itu gejala stroke, tapi mamah selalu berusaha kuat, menutup-nutupi kesakitannya,” ujar Reni kepada Tribun Jabar saat ditemui di Jalan Ganeca 7 Lb Siliwangi, Coblong, Kota Bandung, Kamis (25/10/2018).

Reni menceritakan, setelah keluarganya pindah ke Purwakarta, ibunya memang sering sakit-sakitan. Walaupun Reni selalu berusaha mengingatkan ibunya untuk pergi ke Dokter, namun jarang digubris oleh ibunya lantaran sibuk dengan aktivitasnya sehari-sehari.

Ibunya adalah sosok pekerja keras dan ulet, demi menghidupi keempat orang anaknya dia rela banting tulang. Pekerjaan sehari-harinya adalah berjualan kelontongan, sayur-sayuran, buka pengisian air galon, dan membuka jasa bengkel.

Setiap dini hari ibunya selalu sibuk pergi belanja ke pasar, terkadang ibunya pun turun tangan untuk memperbaiki mobil truk besar sekalipun di bengkel. Tak heran jika ibunya pun sering sakit-sakitan. Sebelumnya, ibu dari Reni sempat mengalami sakit ambeyen dan turun peranakan.

“Dari situlah perjalanan mamah berlangsung sampai akhirnya memang kanker otak,” cerita Reni yang matanya nampak berkaca-kaca menahan air mata agar tidak menetes.

Sejak di tingkat satu Reni berkuliah, dia telah mengkhawatirkan kondisi ibunya, dan dia pun terpaksa bolak-balik menempuh perjalanan Purwakarta-Bandung sambil berkuliah. Hingga suatu saat keadaan ibunya memburuk, Reni diberi kabar dari neneknya yang datang dari Medan untuk segera pulang melihat kondisi ibunya.

Sontak Reni pun kaget dan khawatir, ternyata kondisi ibunya tambah parah. Reni melihat kondisi ibunya terkapar dengan tangannya yang kejang. Dengan berusaha keras Reni membawa ibunya ke dokter, namun yang terjadi, dia mendapatkan kabar yang tidak pernah dia sangka, bahwa hidup ibunya hanya tinggal bertahan 3 bulan lagi.

Reni menceritakan hal itu sambil menitikan air mata terjatuh dengan deras, sesekali Reni menyapunya dengan kedua tangannya.

Sambil membesarkan hati, Reni berusaha tegar dan terus melanjutkan ceritanya. Dia pun lanjut bercerita, dokter mulai berpesan kepadanya, di akhir masa ibunya Reni harus membuat ibunya bahagia. Reni mengaku tidak tahu harus berbuat apa, dia mendapatkan banyak saran dari para tetangganya untuk tabah dan mendorong motivasinya agar kuat menghadapi kenyataan tersebut.

Kendati begitu, satu tahun Reni menutupi kesedihannya, setiap kali dia pulang Reni harus membuat agar suasana menjadi bahagia di depan ibunya. Akan tetapi, tidak sanggup menahan tangis, setiap menit Reni harus pergi ke kamar mandi dan menangis sejadi-sajadinya.

Hingga suatu ketika, dokter pun harus mulai mengambil tindakan untuk memberi tahu penyakit yang diderita pasiennya itu sesuai prosedur yang ada. Dari sanalah kemudian ibu Reni akhirnya tahu dan menghadapi kenyataannya dengan berusaha tegar di hadapan putrinya.

Tak dapat dibendung, justru Reni yang malah menangis pecah di hadapan ibunya yang begitu tegar mendapati penyakit yang diidapnya.

“Saya berusaha keras tegar, mamah pun malah bepikir mungkin karena kelelahan, pikirnya,” ujarnya.

Ditempa ujian tersebut, Reni sempat merasa putus asa dan berpikir untuk berhenti kuliah, mengingat dia harus mengurusi keluarga, rumah sakit, dan adik-adiknya di rumah. Namun, lagi-lagi Reni bersyukur masih banyak orang yang peduli terhadapnya. Reni mendapatkan nasihat dari keluarganya untuk tetap melanjutkan kuliah.

“Saya berpikir jika berhenti kuliah terus adik-adik nanti seperti apa, kalau berhenti, perjuangan mamah selama ini sia-sia mamahkan sudah anterin saya sampa ke titik ini, sampai akhirnya saya bolak-balik Purwakarta Bandung untuk mengurus ibu saya,” katanya.

Selama dua tahun kuliah, Reni merasakan kuliahnya itu berantakan keteteran. Namun, lagi-lagi dia beruntung dan bersyukur mempunyai teman yang mau membantunya ketika tertinggal materi kuliah. Ditambah lagi, Reni mendapatkan bantuan penggalangan dana dari KM ITB, Kestra HMTL, Donatur Orangtua 76 dan 86. Dia juga mengaku beruntung karena mempunyai dosen-dosen yang baik dan mengerti keadaannya.

“Bersyukur saya punya pemerintah yang baik mendapatkan beasiswa full dari Bidikmisi, dosen-dosen sangat mengerti keadaan dan teman-teman juga, mereka selalu menyemangati, bahkan memberikan dana,” ujar Reni.

Sampai akhirnya ibu Reni tiada adalah masa terberatnya ketika menginjak semester tujuh, Reni mengaku begitu berat dan merasa sangat ketinggalan materi kuliah. Namun Reni terbantu oleh teman-temannya yang mau menjelaskan materi yang terlewat dan tak ragu untuk meminjamkan catatan kepadanya.

Walaupun telah menghadapi ujian terberat dalam hidupnya, Reni bisa bangkit dari keterpurukannya. Faktor yang membuat dirinya bangkit adalah karena adik-adiknya dan melihat perjuangan sosok ibunya selama ini.

“Hal itu juga membuat saya bangkit dan kuat, melihat kondisi mamah, yang tidak pernah mengeluh kalau pun capek. Adik-adik saya yang masih membutuhkan tumpuan orang dewasa. Karena saya merasa sekarang saya yang menjadi tumpuan mereka, ngurusin uang, kontrakan, makan, pendidikan, biaya hidup, termasuk mendidik adik-adik di rumah,” ungkapnya.

Ingin membalas ketertinggalannya berkaktivitas di kampus, Reni memutuskan untuk aktif dalam beberapa organisasi di antaranya di IMTLI (Ikatan mahasiswa Teknik lingkungan Indonesia) sebagai ketua gerakan memilah sampah regional Jawa Barat, kemudian menjadi Delegate of Indonesia ASEAN January Universitas Youth Summit 2017 Republic of the Philippines. Beberapa kali, Reni juga aktif di himpunan HMTL ITB.

“Karena sadar kemarin sempat gak ikut organisasi selama dua tahun kuliah, akhirnya aktif ikut training dan seminar terkait OHSAS dan ISO,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, pada September 2018 ini Reni bahkan berhasil menorehkan prestasinya meraih juara 1 kompetisi Insvasi (Inovasi Sains) di Bali tingkat nasional, kategori instrumen produk unggulan dengan penelitian mengenai “Elektrokoagulasi sebagai metode pengolahan limbar cair coolant”. Bahkan, Reni pun mendapatkan penghargaan tugas akhir terbaik pada program studi Teknik Lingkungan 2014.

“Seenggaknya, aku kejar dengan cerdik mengisi keunggulan, karena kan untuk cari kerja gak mungkin isi cv cerita hidup, pastinya aku tonjolkan dengan prestasi,” ungkapnya.

Demikian hingga akhirnya Reni pun lulus dan menerima pujian predikat sebagai wisudawati berprestasi dan inspiratif. Reni diwisuda pada 20 Oktober 2018, bertepatan dengan hari jadinya 20 Oktober 1995 menginjak usianya ke 23.

Prestasi gemilang dan pujian tersebut, tak lain Reni persembahkan untuk orangtuanya, khususnya ibunya yang telah mengantarkannya meraih keberhasilannya itu. Bagi Reni, setiap orang mempunyai persoalan hidupnya masing-masing. Tapi, yang menjadi beda adalah bagaimana cara seseorang itu menghadapi masalah tersebut.

“Tuhan pasti sediakan jalan buat kita, kejar terus mimpi jangan kalah dengan keadaan, karena sebetulnya keadaanlah yang membentuk kita,” pesannya.

 

Sumber: Intisari

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *