Orang Tuaku Kabur Saat Aku Usia 2 Bulan, Nenekku Sakit – Sakitan. Pada Koin Ini Aku Menggantungkan Harapan

Posted on

Apakah kalian tahu profesi anak – anak pencari koin? Ya, profesi tak lazim ini bisa kalian temukan di Selat Sunda yang membatasi Sumatera dan Jawa. Anak – anak berusia belasan tahun melompat dari geladak kapal sembari mengumpulkan beberapa koin yang dilemparkan oleh penumpang kapal ke laut lepas. Resikonya memang tidak sebesar pendapatan mereka. Namun, hal ini terpaksa dilakukan demi sekedar menyambung hidup.

Namanya adalah Ande, Ande tinggal bersama nenek dan adiknya yang bernama Nazwa. Orang tua Ande dan Nazwa menitipkan kedua anak ini ke nenek mereka dan pergi begitu saja sejak mereka masih kecil. Hidup di pinggiran Pulau Jawa tak menjadikan mereka memiliki penghasilan yang cukup. Ande seorang diri harus menanggung beban keluarganya ini. Bukannya meremehkan, tapi tubuh renta sang nenek tidak lagi mampu untuk mencari pundi – pundi uang.

Nenek dari Ande mengidap penyakit asma akut. Jika penyakit tersebut kambuh, sang nenek tak mampu beraktivitas dengan normal. Sang nenek hanya dapat terbaring lemah di kasurnya. Untuk hal obat – obatan, sang nenek hanya mengandalkan obat – obatan dari warung. Karena, mereka tidak punya uang sama sekali untuk membeli obat. Untuk urusan makan saja, mereka hanya mengandalkan lauk seadanya.

Pagi – pagi sekali, Ande membawa adiknya Nazwa untuk mencari uang. Ande ingin mencari uang dengan cara menjadi tukang semir sepatu di pagi hari dan menyelam mencari koin di malam hari. Cara ini dilakukan semata – mata untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Apalagi, neneknya kini terbaring lemah di tempat tidur. Bersyukur saat Ande sampai ke Stasiun Merak, Ande disambut oleh karyawan stasiun. Karyawan di Stasiun Merak ini biasa menggunakan jasa semir sepatu Ande. Hari itu, Ande diberikan uang sebesar Seratus Ribu Rupiah. Pegawai langganan Ande ini menyuruh Ande untuk mengambil seluruh uang tersebut tanpa harus mengembalikannya.

Ande sangat senang dan kembali ke rumahnya. Ande bercerita kepada neneknya bahwa dirinya mendapatkan sedikit uang untuk membeli obat. Nenek Ande melarang Ande untuk mencari koin malam hari. Snag nenek menyuruh Ande untuk membeli obat di warung. Ketika Ande pergi ke warung, dirinya melewati sebuah konter handphone. Di sini Ande terdiam beberapa saat. Ande sangat mengidamkan sebuah handphone, sama seperti kebanyakan anak – anak sekarang. Ande menepis keinginan tersebut karena sadar penghasilannya tidak lah cukup.

Keesokan paginya Ande langsung mencari koin – koin di lautan. Penghasilan dari mencari koin ini sebenarnya tidak seberapa, hanya kisaran Dua Puluh Ribu Rupiah hingga Tiga Puluh Ribu Rupiah dalam satu hari. Namun, Ande tidak punya pilihan lain, hanya ini yang dapat dilakukan dirinya untuk menyambung hidup. Siang itu, Ande terlihat panik. Ya, nenek yang dia sayangi sakitnya semakin parah. Disaat seperti ini, Bocah berusia 11 tahun itu tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa. Untungnya ada tetangga yang berbaik hati mau mengantarkan sang nenek ke rumah sakit. Tak hanya itu, Ande juga diberikan handphone sebagai alat komunikasi untuk berjaga – jaga mengabari dirinya ketika sang nenek sakit. Tetangga ini akan siap membantunya. Wah, semoga hidup Ande bisa lebih baik lagi ke depannya ya !

 

Sumber : Youtube

 

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *