Wanita Ini Malah Dipecat Ketika Minta Ijin untuk Melahirkan. Namun “Respon Ini” yang Dilakukan Ibu di Sebelahnya!

Posted on

Bagi karyawan wanita, rasanya sulit jika kita harus bekerja sambil hamil besar. Dimana kondisi kesehatan jadi tidak menentu, belum lagi beban dari pekerjaan, itu yang membuat wanita jadi takut bekerja ketika lagi hamil.

Makanya setiap negara memiliki kebijakan tersendiri mengenai ‘cuti bersalin’. Di Indonesia, tertulis di peraturan pemerintah : Lamanya cuti-cuti bersalin tersebut dalam ayat (1) dan (2) kepada PNS adalah 1 (satu) bulan sebelum dan 2 (dua) bulan sesudah persalinan. Dan pastinya di setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda.

Nah kali ini ada sebuah sosial eksperimen di Taiwan, dimana ada seorang wanita hamil tua ingin minta ijin cuti bersalin. Dimana kebijakan dari manager restroran itu sungguh di luar batas manusia. Ia berkata dengan pedas dan memberi kebijakan yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah. Lalu bagaimana respon dari orang sekeliling yang mendengar dialog wanita hamil dan manager tersebut?

“Siang manager, jadi maksud saya ingin berbicara dengan bapak adalah untuk minta ijin cuti persalinan. Saya sedang hamil tua, rasanya kesulitan jika bekerja sambil membawa perut yang besar, apalagi jika saya masih harus membawa barang berat dan bekerja dari pagi sampai malam. Saya takut dengan kesehatan calon bayi saya” kata salah satu pemeran wanita bernama Ana

“Ya saya mengerti keadaan kamu. Udah kamu gak usah khawatir, kamu boleh istirahat dan kerjaan kamu saya akan berikan ke orang lain!” kata manager dengan seenaknya

“Makasih pengertiannya pak. Lalu kapan saya bisa balik bekerja di restoran ini lagi?” tanya Ana

“Hmhh, nanti aja baru dibicarakan lagi deh. Lihat keadaan, apakah nanti restoran ini masih membutuhkan kamu atau tidak.” kata manager dengan seenaknya

“Loh, pak! Saya hanya minta ijin cuti bukannya mengundurkan diri. Setelah melahirkan dan saya merasa kondisi saya sudah sehat kembali, saya akan segera kembali bekerja!” bela Ana

Lalu dari perdebatan mereka, ada seorang ibu yang duduk di sebelahnya tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

Bisa dilihat bahwa ibu ini menguping pembicaraan mereka dari awal sampai akhir. Karena ia merasa pernah berada di posisi Ana dan pernah mengalami masa ijin cuti.

“Pak, tolong! Saya masih butuh pekerjaan ini, saya cuma mau minta ijin cuti tapi jangan pecat aku!” kata Ana sambil menangis

Lalu ibu yang duduk di sebelah itu dengan sigap menyodorkan tisu kepada Ana.

“Ya tapi itu sudah jadi keputusan saya. Lebih baik saya cari pekerja baru daripada saya tunggu kamu yang tidak tahu sampai kapan akan kembali bekerja. Lagian lebih baik cari anak muda yang masih kuat dan bertenaga. Daripada cari wanita beranak yang sudah tidak berenergi!” kata manager tajam

“Gini deh saya kasih 2 pilihan, pilih kamu mau keluar saja dari restoran ini atau beberapa minggu ini kamu lembur untuk menggantikan cuti persalinanmu? Kamu pikirkan baik-baik, saya telepon ke luar sebentar, lalu waktu saya balik semoga kamu sudah ada jawaban” tanya manager

Lalu saat manager itu keluar, sang ibu yang berada di meja sebelah langsung menghibur Ana..

“Nona sayang, sudah jangan nangis. Aku pernah berada diposisimu, dimana aku harus mementingkan urusan bayi dan kesehatanmu daripada pekerjaanmu. Saran aku, kamu mengundurkan diri saja. Tidak usah kerja di sini lagi, lagian lihat managermu itu tidak punya hati! Ia sembarangan kasih keputusan dan tidak sesuai dengan kebjiakan pemerintah!” nasehat dari ibu itu

“Ia ada benarnya juga omongan ibu. Makasih ya. Mungkin sudah saatnya saya undur diri saja, daripada saya harus lembur tiap hari di tengah hamil tuaku! Aku percaya masih banyak kerjaan yang mau menerimaku”

Lalu ketika manager itu kembali dari luar, Ana sudah memiliki jawaban. Dia memilih itu mengundurkan diri saja dari kerjaan itu. Sang manager pun terlihat senang mendengar keputusan dari Ana.

Dari sosial eksperimen ini mengajarkan kepada kita agar kita harus berani bersuara untuk membela / membantu kaum yang lemah, seperti yang dilakukan ibu itu. Dan juga, jika kita adalah seorang atasan kita harus bisa menghargai jika ada karyawan yang sedang hamil tua. Jangan sembarang ambil keputusan, tapi taatilah pada setiap peraturan pemerintah yang telah dibuat.

Mari kita simak videonya di bawah ini:

Sumber: Micelle

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *