Orang Hanya Mengenalnya Sebagai Pelawak, Tapi “5 Fakta Mengejutkan” Perjalanan Hidup “Dono Warkop” Bakal Bikin Kamu Berkaca-Kaca!

Posted on

Drs. H. Wahyu Sardono atau yang lebih akrab dikenal dengan Doni Warkop. Meski dirinya telah tiada, nama dan karya-karyanya masih tetap setia dihati penggemarnya. Masyarakat Indonesia mungkin mengenalnya hanya sebagai pelawak, namun ternyata ada 5 fakta mengejutkan perjalanan hidup Dono yang mungkin sebagian besar belum mengetahuinya.

1. Sejak Mahasiswa, Dono menjadi aktivis peristiwa Malari

Dono adalah seorang mahasiswa jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia. Ia Lahir di Solo dan menuntut ilmu di ibu kota. Selama jadi mahasiswa, ia sangat aktif dalam organisasi. Salah satunya adalah Mahasiswa Pencinta Alam UI.

Dono aktif mengikuti perlawanan-perlawan orde baru. Peristiwa Malari-Malapetaka Lima Belas Januari tahun 1974 merupakan sebuah tragedi besar yang melibatkan Dono. Dono bersama Kasino ikut andil dalam mengkritik pemerintahan Soeharto kala itu.

2. Saat jadi Dosen, Dono tetap menegakkan kebenaran

Setelah lulus kuliah, Dono yang pernah menjadi karikatur diberbagai surat kabar seperti Tribun dan Salemba, akhirnya memutuskan untuk menjadi dosen di jurusan dan kampus tempat dimana ia kuliah dulu. Saat jadi Dosen, tak menghalangi Dono untuk mengkritik pemerintah dan menegakkan keadilan. Ia dengan berani mengarahkan selang hydrant kepada pasukan tentara untuk melindungi mahasiswa yang sedang melakukan aksi di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.

3. Lewat karya, ia sampaikan kritik

Bersama Kasino dan Indro, Dono menyampaikan kritik terhadap pemerintah dalam program Warung Kopi Prambors. Ya, mereka pertama kali mengudara di Radio Prambros dengan celetukan-celetukannya terhadap situasi sosial saat itu.Tak lama kemudian, mereka memproduksi lebih dari 5 film, salah satunya adalah “Chips”. Film yang menceritakan tentang para aparat yang baik dan jujur, namun itu merupakan sindiran bagi pemerintahan saat itu dikemas dengan gaya humor yang mengocok perut. Bahkan munculnya frasa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” tersebut menggambarkan keadaan masa orde baru yang segala sesuatunya kurang bebas.

4. Penulis novel

Dono bukan hanya seorang pelawak, ia juga menulis novel. Kritikannya tak hanya ia sampaikan dalam adegan film, celetukan-celetukan siaran radio, maupun  film yang digarap bersama Kasino dan Indro. 4 Novel yang ditulisnya yaitu; Cemara-Cemara Kampus (1988), Bila Satpam Bercinta (1999), Dua Batang Ilalang (1999), dan Senggol Kiri Senggol Kanan (2009).

5. Ia berhasil menyekolahkan putranya sampai S3

Melihat dari prestasi yang ditorehkan Dono, tak bisa dipungkiri bahwa ia adalah orang yang cerdas. Buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Putra keduanya, Damar Canggih Wicaksono berhasil melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S3 teknik nuklir di Universitas di Swiss.

Dari 5 fakta mengejutkan di atas, tak heran jika karya-karya cerdas Dono akan selalu dikenang dan tersimpan di hati masyarakat Indonesia. Mari doakan almarhum semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Sumber: boombastis

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *