Menantu Menghadiahkan “Gelang Emas” di Ultahku. Malamnya, Cucu Menelepon Minta Kembalikan Gelang Emas itu agar “Hal Buruk” Tidak Terjadi!

Posted on

Aku dan suamiku hanya mempunyai 1 anak laki-laki, namanya Ricky. Sejak lulus kuliah, Ricky berhasil mendapat pekerjaan di perusahaan bergengsi di kota. Hal ini sangat membuatku bangga dan bahagia. Aku dan suamiku sebenarnya miskin dan bertani di desa, dengan susah payah kami berhasil menyekolahkan Ricky sampai kuliah. Sampai-sampai saat Ricky menikah dengan istrinya, Desi, kami menggunakan tabungan pensiun kami untuk membiayai pernikahannya dan rumah. Asalkan Ricky bisa hidup bahagia, itu sudah cukup untuk kami.

Saat Ricky belum menikah, Desi selalu bersikap sopan terhadapku. Ia sering memuji masakanku enak, mengajakku ngobrol, dan kerap membuatku tersanjung. Aku cukup kaget, karena Desi sejak lahir sudah tinggal di kota, namun ia bisa menerima latar belakang keluarga kami.

Namun ternyata itu hanyalah kedoknya saja. Setelah menikah, sifat asli Desi baru keluar. Dia menghinaku, mengataiku, bilang bahwa rumahku di desa sangatlah kotor dan bobrok, bila tidak ada urusan dia tidak akan ke rumah.

Bahkan saat hari libur seperti tahun baru pun, ia tidak datang berkunjung. Sanak saudaraku kerap menanyakan hal ini, “Kemana Ricky dan istrinya? Kamu nggak akrab dengan menantu?”
Aku hanya bisa tersenyum miris menjawab,“Si menantu nggak terbiasa tinggal di desa..”

Setelah bekerja 3 tahun, Ricky akhirnya mengundurkan diri dan mulai membuka usaha sendiri. Berkat perjuangan kerasnya, ekonomi rumah tangganya membaik, bahkan Ricky berhasil melunaskan cicilan rumah dan membeli mobil. Tak lama kemudian, Desi hamil. Desi juga tidak perlu lagi bekerja dan kerjanya hanya di rumah, atau kadang keluar bepergian bersama teman-temannya.

Saat Desi melahirkan, aku awalnya hendak pergi ke kota merawat sekaligus melihat cucu. Namun Desi menolaknya. Katanya, ibunya yang akan merawat dan menjaga cucu.

Aku tidak diberi kesempatan untuk melihat cucuku sama sekali. Aku sempat diam-diam datang ke kota menengok, namun Desi bahkan tidak pernah membiarkanku menginap di rumah.

Bila rindu dengan cucu dan anak, aku dan suami hanya bisa melepas rindu dengan foto-foto yang dikirimkan Ricky. Apa boleh buat, yang berkuasa di rumah tangga mereka adalah Desi. Walaupun Ricky berbakti kepadaku, ia tidak berani membantah permintaan istrinya.

Waktu berlalu begitu saja, 6 tahun berlalu, cucuku sudah bisa masuk SD. Tahun itu juga aku genap berusia 60 tahun. Ricky hendak merayakannya secara besar-besaran. Ia mengundang tetangga dan para sanak saudara, memesan makanan dari restoran. Rumahku saat itu penuh dengan suara canda tawa. Desi juga datang, namun ia hanya duduk dan memainkan ponselnya.

Aku tidak peduli hal itu, aku sangat senang karena bisa melihat cucuku.

Sebelum pulang, Ricky menyodorkan aku sebuah gelang emas. “Ini dikasih Desi sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu.” katanya.

Aku kaget, ternyata Desi sudah berubah baik kepadaku. “Iya, terima kasih yah. Sebenarnya nggak usah repot-repot begini. Sering-sering bawa cucu pulang kesini saja ibu sudah cukup senang.. Kalian hati-hati di jalan yah..”

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba teleponku berdering. Ternyata cucuku menelepon.“Oma, kembalikan gelang itu. Papi mami berantem gara-gara gelang. Katanya mereka mau cerai” 

Aku terperanjat kaget. Bisa-bisanya bertengkar karena sebuah gelang.

Aku lalu menelepon Ricky. “Nak, biar ibu kembalikan saja gelang ini. Mending kamu berikan ke Desi. Ibu sudah bangkotan begini, nggak usah pakai perhiasan lagi. Kalian jangan cerai yah, kasihan anak kalian masih kecil”

“Bu, ibu tenang saja. Ibu nggak usah cemas. Bisa-bisanya Desi marah karena hal ini. Memang kenapa kalau Ricky kasih gelang ke ibu sendiri? Kalau dia begitu lagi, Ricky nggak akan takut. Ricky bakal cerain dia.”

Aku terharu mendengar kata-kata anak semata wayangku itu. Aku membujuknya untuk tidak bercerai. Akhirnya Ricky mengurungkan niatnya.

Aku kira masalah sudah berakhir, namun, beberapa hari kemudian, Desi tiba-tiba datang ke rumah. Ia menggedor pintu dengan gusar. Saat itu suamiku sedang ke rumah temannya. “Buka pintu! Cepat!” teriaknya.

Dengan tergopoh-gopoh aku membuka pintu, bertanya, “Eh Desi, ayo masuk? Ada apa jauh-jauh ke sini?”
“Nggak usah basa-basi lagi, mana gelang emas itu? Ibu nggak pantas pakai perhiasan semahal itu! Nggak nyadar yah sudah bau tanah.”

“Kalau Desi mau, biar ibu kasih ke Desi saja. Ibu juga nggak perlu perhiasan.” ujarku.

Aku menahan tangisku, kaget akan hinaan Desi. Aku menyerahkan gelang itu kepada Des , Ia mengambilnya dengan kasar lalu pergi.

Aku tidak menceritakan hal ini ke Ricky dan suamiku. Aku pikir, lebih baik tidak dibesar-besarkan. Aku hanya ingin Ricky bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.

Tak disangka, beberapa hari kemudian, saat mencari barang, Ricky menemukan gelang itu di kotak perhiasan Desi. Ricky sangat geram lalu memutuskan untuk menceraikan Desi, lalu mengusirnya dari rumah. Karena Desi tidak bekerja, tentu saja hak asuh anak dimenangkan oleh Ricky. Ia lalu membujukku dan suami untuk tinggal bersamanya di kota.

“Bu, ibu sama bapak datang ke kota yah, tinggal sama Ricky…Ibu nggak usah ambil hati dengan perceraian ini..Ricky nggak butuh istri yang nggak hormati ayah ibu Ricky. Biar bagaimanapun, orang tua hanyalah 1 di dunia, apalagi ibu cuman punya 1 anak, Ricky. Kalau bukan Ricky yang rawat kalian, perhatiin kalian, siapa lagi yang bisa? 

Tanpa ibu dan bapak, nggak akan ada Ricky yang sekarang. Jadi, biarkan Ricky balas kalian, kalian sudah banyak berkorban demi Ricky. Sekarang, Ricky yang akan merawat kalian. Ibu, Bapak yuk pindah ke kota..? Kalian nggak akan kesepian lagi..”

Aku dan suami akhirnya diboyong Ricky ke rumahnya di kota. Disana, kami hidup bahagia, rumah penuh dengan canda tawa, suara riuh penuh celotehan cucu. Bagiku, bisa hidup dengan cucu dan anak sudah cukup. Gelang, perhiasan, uang, aku tidak memerlukannya. Kita tidak bisa membawa barang duniawi ke akhirat.

Sumber: womenclub

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *