Kisah Nyata Mengharukan, Ibu Hamil Ini ‘Bunuh Diri’ Demi Bayinya, Pas Dikeluarkan Dokter Menangis Ternyata…

Posted on

Kasih sayang seorang ibu merupakan semua kebaikan yang tak terbalas bagi seorang anak. Ibu rela melakukan apapun, termasuk bunuh diri jika diperlukan asal anaknya bahagia.

Banyak kisah sudah ketika seorang ibu rela bekorban demi anaknya. Bahkan, ketika ia mengabaikan hidupnya. Seperti kisah berikut ini yang dapat menjadi pembelajaran seorang anak. Dilansir Sripoku.com dari mirror. Seorang ibu di Inggris tepatnya di Swansea City memilih bunuh diri alias meninggal demi bisa melahirkan bayinya.

Wanita itu bernama Tasha Trafford, wanita cantik berusia 30 tahun.

Ia belum menikah, namun ia ingin sekali memiliki seorang anak. Di usianya menginjak 30 tahun, ia mencoba menjalani program kehamilan dengan sistem penyuntikan sperma dari pendonor yang dipilih. 3 Minggu setelah penyuntikan itu, Tasha positif dinyatakan hamil. Ia begitu senang, karena ia memang mengidamkan untuk memiliki seorang anak. Setiap hari ia rutin mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga ringan untuk bayinya.

Tasha pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Sayangnya, hubungan itu tak bertahan lama dan karena tak cocok keduanya memilih jalan sendiri-sendiri. Ketika 3 minggu kehamilannya, Tasha menjalani pemeriksaan karena ia merasakan sakit berbeda. Ia memeriksakan ke dokter dan betapa terkejut, rupanya ia mengidap kanker di punggungnya. Dia menjalani kemoterapi dan radioterapi di Singleton Hospital, Swansea, dan setelah dua tahun dia diberitahu bahwa dia sudah sembuh. Tapi kemudian 16 minggu kehamilannya, kankernya kembali dan dia dihadapkan pada sebuah pilihan, akhiri kehamilannya untuk segera memulai kemoterapi atau kehilangan nyawanya sendiri. Tasha, seorang perawat A & E, dan ia memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya.

Tasya memilih anaknya. Bukan dirinya.

“Saya tidak akan membahayakan anak saya dan jika itu akan dilakukan sungguh saya tak bisa membayangkannya. Ini adalah mimpi saya dan saya sangat menyayanginya,” ucapnya yang dikutip dari Metro.co.uk. Ibu Tasya menemaninya selama kehamilan. Sampai akhirnya ketika 9 bulan bayinya keluar, Tasha begitu bahagia melihat anaknya begitu lucu. Bahkan ketika dokter yang membantu persalinanya menangis saat bayinya keluar. Dokter mengaku begitu terharu dengan yang dilakukan Tasha. Seperti ‘bunuh diri’. Tapi ia tak kuasa karena itu adalah pilihan Tasha.

Ia berjuang sekuat tenaga dan bertahan 11 bulan bersama bayinya ketika melawan kanker. Tasha telah menetapkan tujuannya untuk dicapai, dan dia sangat ingin melihat anaknya tumbuh dengan baik. “Dia memilikinya selama 11 bulan,” ucap ayahnya Dai Gallivan. “Dia tahu apa yang terjadi tapi kami tidak banyak membicarakannya. Itu adalah penyakit yang sangat panjang dan sangat sulit bagi Tasha,” ucap ayahnya lagi. Pada hari dia meninggal, ayahnya telah terbang untuk menyelesaikan pendakian amal Gunung Kilimanjaro untuk Perawatan Kanker Tenovus. Sebulan sebelumnya, setelah melihat kondisi putrinya memburuk, dia memutuskan untuk menyerahkan tempat tinggalnya ke saudara laki-laki Tasha, David.

“Aku tahu aku tidak bisa pergi. Saya tahu di hati saya jika saya pergi maka Tasha tidak akan berada di sini saat saya kembali “.

David sedang duduk di bandara, dua jam sebelum penerbangannya, saat ayahnya menelepon untuk memberitahunya bahwa saudara perempuannya telah meninggal. David bisa melihat adiknya sehari sebelum dia meninggal. Apa yang dilakukan Tasha merupakan kisah sedih dan bukti cinta seorang ibu. Tak peduli ancaman bahkan nyawa, seorang ibu akan tegar menghadapi ancaman itu demi anaknya. Tasha meninggal setelah 11 bulan merawat anaknya. Ia berjuang saat hamil dan ia berjuang melawan kanker. Itulah cinta ibu, benar bukan?

sumber : tribunnews.com

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *