Karena Rabun, Ayah Minta “Istriku Tarik Uangnya” di Bank. Malamnya Aku Menangis Melihat “Sisa Saldo” Tabungan Ayah!

Posted on

Kakek Adi adalah seorang warga desa di Purbalingga. Seumur hidupnya ia bekerja sebagai petani. Bersama dengan istrinya, Ani, suami istri ini dengan susah payah berhasil menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah. Selama bertahun-tahun suami istri ini hidup serba hemat, berharap anak mereka Irfan dapat sukses. Malangnya, saat Irfan baru lulus SMA, nenek Ani terkena kanker payudara stadium akhir.  Beliau bertahan hanya setengah tahun lalu meninggal dunia.

Irfan sangat pintar dan ambisius, dia tidak pernah membuat ayahnya kuatir.

Prestasinya gemilang dan selalu meraih peringkat. Belum lulus pun ia sudah ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan kontruksi sebagai designer. Sebelum lulus, Irfan bekerja magang di perusahaan itu. Karena kinerjanya cukup bagus, sang direktur mempercayakannya untuk bertanggung jawab secara total dalam suatu proyek besar. Demi memperjuangkan kesempatan langka ini, Irfan bekerja keras, sampai lupa makan, ia pergi pagi-pagi buta dan pulang larut malam. Jerih payahnya tentu saja membuahkan hasil, rancangan disainnya menuai pujian dan komentar positif dari klien dan bos.

Saat bekerja sama dengan klien, Irfan sempat berkenalan dengan Fani. Pelan-pelan mereka sering kontak dan mulai menjalin hubungan asmara. Fani yang orang kota juga tidak masalah dengan asal usul Irfan. Ia bahkan mengerti kesulitan Irfan dan ayahnya. Setelah Fani dan Irfan menikah, mereka berhasil membayar uang DP dan membeli rumah dengan 3 kamar. Mereka lalu meminta kakek Adi untuk tinggal bersama. Kakek Adi awalnya takut merepotkan, namun karena bujukan Fani, akhirnya kakek Adi bersedia tinggal di kota bersama Irfan dan menantunya.

Suatu hari, kakek Adi mendapat telepon dari tetangganya di desa yang mengundang kakek Adi untuk datang ke pesta pernikahan.

Kakek Adi dengan gembira menyetujuinya. Malam hari saat Irfan dan Fani pulang bekerja, kakek Adi lalu mengeluarkan buku tabungannya dari dalam lemari dan menyerahkannya ke Fani.

Fani, besok bisa tolong ambilkan uang 1 juta rupiah? Anak tetangga saya mau menikah, di buku tabungan ini seharusnya masih ada uang, mata ayah sudah rabun, jadi ayah tidak tahu masih ada berapa.”

“Oh, si bocah itu sudah mau menikah. Cepat banget.. Tapi Yah, uang ayah disimpan saja. Irfan ada uang kok.. Nanti Irfan bungkusin amplop untuk kondangan.” kata Irfan. “Iya yah, kenapa mesti sungkan? Uang ayah disimpan saja.” ujar Fani setuju. “Mana boleh, ayah sudah berhutang banyak sama kalian, ayah nggak mau pakai uang kalian, apalagi ayah masih punya uang.”

Karena kakek Adi keras kepala, keesokan harinya Fani akhirnya pergi menarik uang di bank.

Malamnya, saat Irfan pulang, kakek Adi memanggil Irfan masuk ke kamarnya.

“Nak, bisa tolong lihat di tabungan ini masih ada berapa nggak? Mata ayah rabun, tulisan di buku tabungan nggak jelas.” tanya Kakek Adi.

Irfan melihat buku tabungan itu, kaget, ternyata di dalamnya cuma ada 16.000 rupiah, hari ini baru dimasukkan 5 juta rupiah, di tarik 1 juta rupiah.

Ternyata tabungan Kakek Adi sudah habis untuk pengobatan istrinya, tapi ia sudah lupa.

Hari ini uang yang baru di setorkan ke dalam pasti dimasukkan istrinya Fani. Agar kakek Adi tidak kuatir, Fani menyetornya diam-diam tanpa sepengetahuan kakek Adi, lalu menariknya lagi. Irfan sangat terharu akan kebaikan Fani.

“Yah, uang di tabungan masih banyak, masih bisa ayah pakai bertahun-tahun. Tenang saja.” ujar Irfan menenangkan ayahnya.

Mendengar kata anaknya, kakek Adi tersenyum bahagia. Beliau kemudian menyimpan buku tabungan itu ke dalam lemari. Irfan lalu beranjak dari kamar ayahnya, masuk ke dapur dan memeluk istrinya yang sedang sibuk memasak. Air matanya bertetesan terharu.

“Istriku, terima kasih. Terima kasih kamu mau bersama aku.”

Sumber: great daily

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *